Google+ Badge

Minggu, 08 Maret 2015

Tausiyah Habibana Idrus bin Muhammad Al Aydrus Tabligh Akbar Kediaman H. Affandi Desa Balongsari, Sukodono - Sidoarjo 19 Januari 2015

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah swt yang telah mengumpulkan kita di kesempatan yang sangat mulia ini, disalah satu perkumpulan yang mana perkumpulan tersebut disebutkan nama baginda nabi kita Muhammad saw, disuatu perkumpulan yang mana jikalau nama nabi Muhammad saw disebutkan maka turun berapa ribu rahmat yang diturunkan oleh Allah swt. Malaikat-malaikat berlalu lalang mencatat daripada amal manusia tersebut bahwasanya fulan bin fulan telah bershalawat kepada baginda nabi kita Muhammad saw. Mudah-mudahan dengan berkumpulnya kita di tempat yang penuh barakah ini kita dikumpulkan dengan baginda nabi kita Muhammad saw, dikumpulkan dengan orang-orang soleh, dikumpulkan dengan mereka-mereka yang mencintai baginda nabi kita Muhammad saw.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt, bahwasanya Rasulullah saw selalu memberikan kepada kita ajaran yang begitu mulia, ajaran yang begitu indah sehingga kita senantiasa mengambil dari pelajaran tersebut budi pekerti nabi Muhammad saw, mengambil daripada akhlaqnya Rasulullah saw, shallu’alannabi Muhammad!
Maka daripada itulah yang seperti diceritakan di dalam salah satu kitab, di dalam kitab siratun nabawi yang dialami oleh salah satu sahabat Rasulullah saw yang bernama Abu Ayyub Al Anshari yang mana beliau selalu mengidolakan Nabi bahkan rumahnya beliau itu salah satu rumah yang pertama kali didatangi oleh nabi Muhammad saw sebelum Rasulullah saw membangun masjid, maka begitu mulia Abu Ayyub Al Anshari tersebut hingga rumahnya didatangi oleh sang nabi kita Muhammad saw.
Begitupun jikalau di dalam kediaman kita, rumah kita, desa kita, mushalla kita, masjid kita, mengadakan daripada acara-acara seperti ini maka kita yakin bahwasanya didalam acara tersebut nabi Muhammad saw datang bersama kita dan menyambut kita, maka sambutlah nabi Muhammad saw dengan penuh penyambutan yang begitu mulia.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt maka daripada itulah Abu Ayyub Al Anshari tersebut adalah salah satu sahabat Rasulullah saw dari kaum anshar yang mana pengorbanannya yang demikian besar hingga orang-orang anshar tersebut tidak mencintai kecuali cintanya yang semakin besar terhadap Rasulullah saw.
Bahkan ketika Rasulullah saw tersebut ketika setelah hijrah dari kota Makkah menuju kota Madinah maka orang-orang anshar itu mendapat penghargaan yang begitu mulia dari Rasulullah saw seraya Rasulullah saw mengatakan :
“wahai orang-orang anshar sesungguhnya hidupku untuk kalian dan matiku untuk kalian”
Pengorbanan yang semakin indah yang dialami oleh orang-orang anshar kepada baginda nabi kita Muhammad saw, dan hadirnya kita disaat ini adalah pengorbanan kita, bentuk cinta kita terhadap sang Nabi, terhadap sang Rasul yaitu baginda nabi kita Muhammad saw.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt maka daripada itulah ketika salah satu cerita yang dialami oleh Abu Ayyub Al Anshari ketika rumahnya didatangi oleh baginda nabi kita Muhammad saw maka dipersiapkan oleh Abu Ayyub Al Anshari kamarnya untuk menyambut daripada sang nabi Muhammad saw hingga tempatnyapun diletakkan dilantai yang ke dua, penghormatan kepada Rasulullah saw.
Ketika masuk Rasulullah saw di dalam kediaman daripada Abu Ayyub Al Anshari maka diperlihatkan kepada Rasulullah :
“ya Rasulullah tempatmu dan kamarmu sudah saya siapkan wahai Rasul di lantai 2”
Maka kata oleh Rasulullah saw :
“jikalau engkau tidak keberatan wahai Abu Ayyub Al Anshari bolehkah saya tinggal di kamar yang tingkat bawah, jangan di taruh di atas saya”
“kenapa wahai Rasul, kenapa wahai sang Nabi’
“karena nanti banyak orang yang datang kepadaku, orang-orang tua takut jikalau mereka mau bertemu denganku maka mereka akan susah untuk naik tangga ke dalam rumahmu wahai Abu Ayyub Al Anshari”
Lihat Rasulullah saw, dipikirkan, diperhatikan, biarpun orang-orang tua pun diperhatikan oleh nabi Muhammad saw, biarpun orang-orang yang kecilpun selalu diperhatikan oleh Rasulullah saw. Itulah mulianya daripada akhlaqnya nabi Muhammad saw :
“Innama bu'itstu liutammima makarima al akhlaq”
“[sesungguhnya saya diutus oleh Allah swt untuk menyempurnakan akhlaq]”
Maka ketika Abu Ayyub Al Anshari datang waktu malam, waktu istirahat, maka naiklah Abu Ayyub Al Anshari ke rumahnya ke tingkat yang ke 2, maka ketika naik ke tingkat yang ke 2.
Di lantai ke 2 tersebut ada sebuah gentong yang isinya air tidak sengaja di senggol olehnya dan oleh anaknya maka pecahlah itu gentong. Maka ketika pecah itu gentong maka airpun tercecer hingga sangat ditakutkan sekali itu air mengenai kamarnya Rasulullah saw. Hingga semua bajunya yang dimiliki olehnya itu dibuat untuk membersihkan daripada tumpahan air tersebut karena air tersebut takut mengena di dalam kamarnya Rasulullah saw. Hingga bajunya pun yang dikenakan pun dilepas oleh beliau untuk apa? untuk membersihkan dan mengeringkan daripada air yang tercecer tadi air bekas tumpahan gentong yang pecah tadi untuk bisa apa? untuk bisa dibersihkan hingga tidak mengenai kamar Rasulullah saw. Bagaimana keadaan rumahnya Abu Ayyub Al Anshari ketika didatangi oleh sang nabi kita Muhammad saw?
Jikalau rumah kita aja didatangi oleh alim ulama, didatangi oleh guru-guru, didatangi oleh para aulia Allah swt kita akan merasa bangga. Rumah kita akan terus terang benderang, wal iyadhubillahi mindzalik jikalau rumah tersebut selalu mendapat daripada siaran-siaran yang menjauhkan diri kita kepada Allah swt. Siaran televisi-televisi yang menjauhkan diri kita dengan Allah swt sehingga anak-anak kita semakin jauh dengan Allah, sehingga anak-anak kita pun semakin jauh dengan nabi kita Muhammad saw.
Anda bayangkan sendiri jikalau anda duduk di dalam majelis ketika kita mengucapkan shalawat, mengucapkan salam terhadap Rasulullah pasti di dalam hati manusia yang terdapat kesusahan, yang terdapat kegalauan pasti akan dihilangkan oleh Allah swt. Begitupun nasib Abu Ayyub Al Anshari ini, bayangkan saja rumahnya disinggahi oleh nabi Muhammad saw dalam riwayat itu hingga 2 bulan Rasulullah singgah di kediaman Abu Ayyub Al Anshari menyinari daripada sinar di dalam rumahnya Abu Ayyub Al Anshari ra.
Mudah-mudahan mereka yang mana selalu di rumahnya, di dalam kediamannya selalu tersiar daripada acara-acara seperti ini maka niscaya rumah tersebut akan mendapatkan cahaya yang begitu abadi, cahaya yang begitu istimewa daripada Allah swt.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt, pernah juga yang dialami oleh Abu Ayyub Al Anshari, menyediakan makan malam selalu disediakan, makan siangnya juga, makan paginya Rasulullah juga diperhatikan, diperhatikan dari A sampai Z diperhatikan oleh Abu Ayyub Al Anshari.
Jikalau kita di dalam dunia ini sekarang kita tidak mendapatkan zamannya Rasul yang kita perhatikan siapa? Al aulia Allah, guru-guru kita perhatikan, al ulama warasatul anbiya yang mana ulama-ulama tersebut adalah pewaris sang Nabi, maka perhatikan mereka. Apa yang mereka butuhkna perhatikan, apalagi yang dibutuhkan oleh mereka untuk syiar daripada syiarnya sang Nabi yang mana syiarnya Nabi yang seperti dikatakan tadi oleh bapak Kyai kita tidak dengan kekerasan tetapi dengan kelembutan yang mana selalu diajarkan oleh baginda nabi kita Muhammad saw.
Setiap makan pagi, makan siang dan makan malam yang disiapkan untuk Rasulullah saw itu beliau dan istrinya tidak mau makan dulu sampai Rasulullah selesai daripada makannya.
Sisa-sisa daripada makanan yang dimakan oleh Nabi itu dibuat rebutan, oleh siapa? Oleh Abu Ayyub Al Anshari dan istrinya. Ditunggu dulu jikalau ada disediakan makan malam ditunggu dari jauh, nggak ditungguin dari dekat ya, ditungguin dari jauh hingga jikalau ada sisanya daripada makanan yang di dalam bekas daripada makanan Rasulullah maka Abu Ayyub Al Anshari dan istrinya dan anak-anaknya berebut untuk mendapatkan apa? keberkahan yang diambil daripada bekas jarinya Rasulullah saw. Lihat, bayangkan, mendapat berkah dari siapa? Jari-jari tangannya nabi Muhammad saw.
Bahkan didalam riwayat yang lain pernah beliau juga menyediakan makan malam, ketika di makan malam itu disediakan oleh beliau dan istrinya setelah disediakan dirasakan oleh Rasulullah saw sedikit kemudian ditinggalkan oleh Rasulullah saw.
Diperhatikan dari jauh :
“ini kenapa Rasulullah saw tidak makan biasanya enak makannya selalu menyenangkan hati”
Rasulullah saw itu tidak pernah menghancurkan perasaan orang lain biarpun dengan sebutir nasi, biarpun dengan segelas air datang ke rumah orang pun selalu diminum oleh Rasulullah saw.
Bahkan Rasulullah saw itu pernah datang ke rumah sahabatnya diberikan cuka maka Rasulullah saw tersenyum yang dihidangkan cuma cuka kepada Rasulullah saw marah tidak Rasulullah? Tidak marah Rasulullah. Mana suguhan yang lain, mana hidangan yang lain, mana lauk pauk yang lain? Rasulullah saw tidak pernah mengatakan sedikitpun dengan sahabat-sahabatnya yang didatangi oleh Rasulullah saw hingga Rasulullah saw mengatakan :
“sebaik-baik lauk pauk adalah cuka”
Karena takut apa? menghancurkan perasaan orang lain, ya itulah baginda nabi kita Muhammad saw. Tetapi diwaktu itu cuma dicicipi sedikit oleh Rasulullah kemudian ditinggalkan oleh nabi Muhammad saw. Abu Ayyub Al Anshari kepikiran dengan istrinya :
‘kenapa sang Nabi itu seolah-olah tidak mau makanan daripada masakanmu wahai istriku padahal biasanya cocok-cocok aja itu Rasulullah saw selera dengan masakan yang engkau berikan”
Kepikiran dia takut ada yang nggak enak, takut ada rasanya yang asin, bahkan takut ada rasanya yang asam. Hingga didekati oleh Abu Ayyub Al Anshari sedikit demi sedikit dengan penuh adab, karena sahabat-sahabat Rasulullah saw itu jikalau mau menghadap kepada Rasulullah penuh dengan adab, penuh dengan sopan santun. Dan mereka pun tau adab diajarkan oleh baginda nabi kita Muhammad saw. Dulunya mereka itu tidak tau adab, tidak tau akhlaq tetapi berkatnya Rasul sedikit demi sedikit bahkan mereka pun ketika menghadap kepada Rasulullah ada dari mereka yang merangkak menghadap kepada Rasulullah saw, penghormatan kepada Rasulullah saw. Kemudian ditanyakan oleh Abu Ayyub Al Anshari :
“ya Rasulullah kenapa engkau tidak makanan kami wahai Rasul?”
‘apakah ada yang salah wahai sang Nabi, apakah ada yang tidak enak masakan istri kami wahai Rasul, apakah malam ini engkau tidak selera apa yang engkau mau kita berikan wahai Rasul”
“apa engkau mau kami sembelihkan kambing, apapun yang engkau minta akan kita berikan wahai Rasul asal engkau ridha kepada kami wahai Rasul”
Lihat itu orang yang sudah cintanya kepada nabi Muhammad saw, shallu’alannabi Muhammad!
Mudah-mudahan kita berkumpul di sini semuanya Rasulullah insyaallah ridha kepada kita semuanya insyaallah.
“apapun yang engkau minta wahai Rasul saya akan berikan” Abu Ayyub Al Anshari
“jangankan lauk pauk, rumahpun, harga diriku semuanya saya berikan kepada engkau wahai Rasulullah saw”
“tidak, bukan saya apa, ketika tadi saya ketika lagi asyik-asyiknya hendak mau memakan daripada masakan daripada istrimu datang malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepadaku. Ketika saya hendak berbicara dengan dia, dia terbau daripada baunya bawang hingga malaikat Jibril ketika mencium daripada bau bawang dari mulutku maka malaikat Jibril kembali lagi ke langit sana”
Maka ketika mendengar itu tadi kata Abu Ayyub Al Anshari :
“setelah Rasulullah saw mengatakan itu dari sekarang sampai saya meninggal saya tidak akan perbolehkan anak saya, istri saya untuk memakan daripada bawang”
Karena kenapa? karena Rasulullah saw. Karena mengikuti yang sedemikian sempurna kepada baginda nabi kita Muhammad saw.
Yang dimaksud disitu adalah bawang putih bukan bawang merah yang mana bisa merusak daripada aroma bau kita. Apalagi Rasulullah saw itu biasanya selalu diskusi, selalu dialog dengan malaikat Jibril.
Mudah-mudahan kita doakan semua yang hadir disaat ini kita mendapatkan kemulaiaan dari Allah swt, sohibul beit mudah-mudahan hajatnya dikabulkan oleh Allah swt, kita yang berkumpul di tempat yang penuh barakah ini mudah-mudahan kesulitan kita diganti dengan kemudahan oleh Allah swt. Marilah kita berdzikir dikesempatan yang sangat mulia ini dengan kita memanjatkan daripada nama Allah swt, panggil Allah, panggil Sang Khaliq, Dia yang Maha mampu kita sama-sama dengan mengucapkan ya Allah ya Allah tapi dengan hati yang tulus dengan hati yang ikhlas betul-betul karena Allah bukan karena manusia. Bahkan Allah swt mengatakan :
“Saya bersama mereka ketika mereka menyebut namaKu”
Marilah kita berdzikir Faqulu jami'an ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah ya Allah.....



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar