Google+ Badge

Jumat, 27 Februari 2015

Tausiyah Habibana Idrus bin Muhammad Al Aydrus Tabligh Akbar Mushola At-Taubah Simorejosari - Surabaya 23 Februari 2015

“Bismillahirrahmanirrahim nawaitu ta’alluma wa at-ta’liima wa at-tadzakkuro wa at-tadzkiiro wa an-naf’a wa al-intifaa’a wa al-ifaadata wa al-istifaadah wa al-hatstsa ‘ala at-tamassuki bikitaabillahi wa sunnati Rosuulihi wa ad-du’ai ila al-hudaa wa ad-dalaalata ‘ala al-khoiri ibtigho’an waj_hillahi wa mardhatihi wa qurbihi wa thawabihi minallahi ta’ala”.

“Qola Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallama, Bashiril masya-ina fidhulami ilal masajidi binnuurit tammi yaumal qiyamah (Hadisun Sahih Rawahu Abu Daud)”.
[“Berilah khabar gembira kepada orang-orang yg berjalan kaki didalam kegelapan ke masjid dengan cahaya yg terang-menderang pada hari kiamat.”]

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah swt yang dimalam hari ini kita dikumpulkan oleh Allah swt didalam kesempatan yang begitu mulia dengan kita senantiasa menggali dan menuntut ilmu yang mana menuntut ilmu itu tidak ada masa liburnya. Kalau seandainya seseorang itu merasa didalam menuntut ilmu itu ada liburnya maka ilmunya baginda nabi kita Muhammad saw itu tidak ada liburnya khususnya dengan kita menggali daripada syariat-syariat baginda nabi kita Muhammad saw. Dikatakan oleh ulama bahwasanya :
“Tidak ada namanya istirahat didalam menuntut ilmu”
Menuntut ilmu didalam ilmu syariatnya Rasulullah saw khususnya di zaman sekarang ini yang mana banyak mereka-mereka yang tidak mengenal tentang daripada syariat-syariat Rasul saw hingga mereka terjauh daripada Rasulullah saw.
Maka dikesempatan yang sangat mulia ini dengan kita membaca satu hadist didalam pertemuan didalam majelis kita ini maka didalam hadist yang ke 7 yang seperti disabdakan oleh baginda nabi kita Muhammad saw, Rasulullah saw bersabda :
“Bashiril masya-ina”
Apa itu arti bashiril, bashiril itu adalah berikan kabar baik kata Rasulullah. Bashiril itu diambil dari kata bisharah, bisharah itu artinya kabar baik. Kabar baik yang datangnya dari siapa? Dari Allah dan Rasul-Nya. Jikalau kita mendapatkan kabar baik contoh halnya jikalau anda diterima disuatu perusahaan pasti anda senang bahwasanya lamaran kerja anda diterima, atau seandainya jikalau anda mendaftar disuatu perguruan disuatu sekolah SMA atau SMP mungkin anda senang karena anda diterima disalah satu sekolahan atau universitas tersebut.
Maka ini kabar baik ini datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, kabar baik yang mana sifatnya bukan dunia. Jikalau kita saja jikalau mendapat dunia, mendapat undian, mendapat duit dan lain-lain mungkin kita senang. Tetapi ini kabar baik dari Allah dan Rasul-Nya “bashiril” berikanlah mereka kabar baik, siapa yang diberikan kabar baik oleh Allah dan Rasul-Nya? Disini dikatakan “al masya-ina” mereka yang berjalan. Diambil dari kata-kata “masya”/“yamsyi” yaitu berjalan, mereka yang berjalan. Mereka yang melangkahkan daripada langkah kakinya kemana? Katanya Rasulullah saw “fidhulami” khususnya diwaktu malam, khususnya diwaktu subuh yang mana banyak orang yang tidur, banyak orang yang tidak memenuhi daripada panggilan-Nya Allah swt itu diberikan kabar baik, diberikan bisharah oleh Allah dan Rasul-Nya. Berjalan kemana mereka diwaktu malam itu? “ilal masajidi” menuju didalam masjid, menunaikan apa? menunaikan shalat, menunaikan dzikir, menunaikan perintah-Nya Allah swt, beri’tikaf dan lain-lain itu akan mendapatkan suatu bisharah dari Allah swt yang bisharahnya yang kabar baiknya itu tidak bisa ditukar dengan harta maupun jabatan.
Makanya jikalau kita berjalan ke masjid atau di mushola dikatakan oleh ulama mana lebih afdhal menaiki kendaran atau berjalan, maka dikatakan oleh ulama lebih afdhal dia itu berjalan khususnya di mushola yang terdekat didalam rumahnya atau masjid yang terdekat daripada rumahnya lebih afdhal dia berjalan daripada apa? daripada dia harus menaiki kendaraan karena disini kabar baiknya ini diberikan kepada mereka yang “masya” yang “yamsyi” mereka yang berjalan. Kalau seandainya saja mereka itu berjalan untuk menunaikan daripada perintah-Nya Allah swt untuk shalat jamaah dan lain-lain. Begitupun anda di majelis ini anda jauh-jauh datang, ada yang datang dari jauh sana, ada yang dari sini, ada yang dari situ, ada yang dari mana-manapun kumpul di tempat ini untuk apa? untuk belajar daripada ilmunya Rasulullah saw maka suatu kemuliaan akan anda dapat, minimal dikatakan ulama yang asalnya orang tua anda disaat ini atau yang sudah meninggal itu akan mendapat siksa kubur karena berkatnya anda hadir didalam majelis maka siksa kubur itu ditahan oleh Allah swt berkah daripada anaknya yang hadir didalam majelis tersebut karena dia belajar daripada ilmunya baginda nabi kita Muhammad saw, shallu’alannabi Muhammad!
Begitupun jikalau mereka menunaikan ibadah shalat, I’tikaf di masjid dan lain-lain maka jikalau ada dirumah anda mushola atau masjid maka isilah dengan apa? dengan anda shalat disana, berjalan disana untuk menunaikan daripada perintah Allah swt.
Mereka sahabat-sahabat sang Nabi, mereka sahabat-sahabat sang Rasul itu ketika mendengar daripada bisharah ini kabar baik dari Rasulullah saw itu banyak mereka itu yang aslinya datang ke masjid Nabawi ke masjidnya Rasul saw itu ada yang menaiki kuda, ada yang menaiki onta, ada yang menaiki keledai dan lain-lain itu akhirnya mereka itu kudanya, ontanya diletakkan didalam kandangnya mereka berjalan biarpun jauh, khususnya mereka tidak mau lepas daripada berjamaah dengan nabi Muhammad saw.
Lihat jikalau anda pergi di dalam masjidnya Rasulullah saw ke masjid Nabawi itu zaman sekarang orang jam 1 atau 1:30 (dini hari) orang sudah keluar dari hotelnya untuk apa? untuk datang ke masjidnya Rasulullah saw untuk beri’tikaf di sana. Makanya dikatakan bahwasanya kata Rasulullah saw :
“Barang siapa mereka yang shalat di dalam masjidku akan dimintakan oleh 70.000 malaikat Allah swt ampunan baginya”.
Orang yang shalat di masjidnya baginda nabi kita Muhammad saw jalan mereka nggak ada mereka yang mana mereka itu menaiki kendaraanya, nggak ada dari mereka yang menaiki onta, nggak ada dari mereka yang menaiki daripada kudanya, nggak ada dari mereka yang menaiki daripada keledainya semuanya mereka itu berjalan untuk mendapatkan apa? bisharah. Untuk mendapatkan gaji dari siapa? Allah dan Rasulnya. Apa gaijnya? Pahala, ganjaran, kemuliaan dari Allah dan Rasul-Nya.
Sekarang jikalau anda kerja disuatu perusahaan misalkan, contohnya hari ini anda mendengar ada pengumuman bahwasanya besok akan mendapatkan bisharahnya, gajinya akan didobelkan akan dilipatgandakan yang aslinya satu bulannya 700rb akan dilipatgandakan menjadi 1,4jt, mungkin yang asalnya datangnya harus lapor jam 8 mungkin banyak orang yang datang jam 7 sudah absen disitu. Itu yang sifatnya dunia bagaimana yang sifatnya akherat? Khususnya jikalau mereka menempuh di dalam rumah-Nya Allah swt. Ulama mengatakan apakah harus setelah adzan atau setelah iqomah kita pergi ke dalam masjid atau mushola? Lebih banyak waktu anda di mushola, lebih banyak waktu anda di masjid semakin banyak bisharah yang anda terima dari Allah swt. Makanya dikatakan oleh baginda nabi kita Muhammad saw :
“Orang yang nunggu orang shalat di musholanya atau di masjidnya seperti pahanya orang yang melaksanakan shalat”
Biarpun anda nunggu berjam-jam dilipatgandakan seperti kelipatan orang yang shalat di dalam masjid tersebut atau di mushola tersebut. Makanya mereka sahabat-sahabat Rasulullah saw itu menunggu Rasulullah saw sampai tertidur mereka, berjam-jam ditunggu untuk mendapatkan apa? untuk mendapatkan ganjaran seperti mereka melakukan shalat yang beribu-ribu rakaat.

Dulu di zamannya Rasulullah saw itu tidak ada lampu beda dengan zaman sekarang. Kalau zaman sekarang ini kadang-kadang kita temukan masjid itu lampunya dihidupkan selama 24 jam tetapi masjidnya kosong melompong nggak ada diisi di situ. Justru jikalau ada orkesan dangdutan nomor satu dia hadirnya waliyadzu billahimindzalik. Khususnya jikalau anda-anda yang tinggal di dekat mushola At-Taubah ini harusnya anda sudah lebih cepat untuk datang ketika panggilan daripada Allah swt. Makanya kita disunnahkan ketika mendengar adzan Allhuakbar..Allahuakbar anda sebut dalam hati anda yaitu apa :
“marhaban biqoidil adhla wabis shalati ahla”
Artinya yaitu selamat datang daripada panggilan yang memuliakan daripada orang muslimin selamat datang wahai panggilan, itu disunnahkan bagi kita jikalau apa? jikalau kita mendengar daripada panggilan-Nya Allah swt.
Hingga kita pun menuju mushola, hingga kita pun menuju masjid betul-betul kita ini diundang oleh Allah swt. Apalagi diwaktu subuh yang mana orang itu lalai dengan panggilan Allah swt, makanya disini ini khususnya diwaktu isya dan diwaktu subuh, karena dulu dizamannya Rasulullah itu tidak ada lampu, jarang sekali penerangan.
Tapi kalau sekarang di Madinah itu di masjid Nabawi itu mungkin lampu di Indonesia ini dengan lampu yang di masjid Nabawi itu tidak ada artinya apa-apa terang betul masyaAllah. Menerangi daripada masjidnya Rasulullah saw, menerangi daripada Masjidil Haram yang mana disitu banyak orang yang kesibukannya berdoa kepada Allah, ada dari mereka yang banyak rukuk, ada dari mereka yang banyak sujud. Tetapi sangat disesalkan jikalau ada jamaah pergi umrah, banyak kita lihat disana khususnya orang Indonesia bukan saya menjelekkan orang Indonesia karena saya juga orang Indonesia, tetapi yang saya perhatikan karena saya perhatikan orang Indonesia itu kalau sudah disana justru ibadahnya itu tambah kurang, yang diperbanyak mereka itu cateringannya, makannya, masyaAllah. Kalau sudah waktunya makan nomor satu, tapi kalau sudah waktunya I’tikaf nomor terakhir dia. Duduk diakhir shaf disana mereka beralasan apa? “yang penting saya duduk disini kan juga dapat pahalanya”
Semakin dekat anda dengan Raudhah semakin dekat anda dengan Ka’bah anda bisa melihat daripada Ka’batul Musyarafah, anda bisa duduk di Raudhanya Rasulullah saw, bahkan dikatakan oleh Rasululah saw :
“Diantara raudhahku dan mimbarku disitulah taman daripada taman surga-Nya Allah swt”
Yang kesemuanya doa diijabah oleh Allah swt tidak ada doa yang tidak diijabah antara baina raudhah, raudhatus syarif dan juga mimbarnya Rasulullah saw.
Banyak kita lihat pun ketika di Ka’bah pun yang dilihat orang-orang thawaf diapun nggak thawaf, nggak dzikir, nggak baca qur’an, nggak shalat sunnah. Makanya ketika anda di Haram Makkah perbanyak anda untuk shalat atau thawaf. Thawaf sunnah ataupun shalat sunnah. Makanya ketika kita pun berada di dalam Haram Makkah itu sekitar daripada Ka’batul Musyarafah itu, kan kalau seandainya kita shalat di Indonesia ini atau selain Makkah itu kan ada beberapa waktu yang kita dilarang untuk shalat sunnah, seperti halnya habis shalat ashar sampai terbenamnya matahari itu dilarang anda untuk melaksanakan shalat sunnah apapun bahkan makruh yang mana makruhnya itu mendekati hal yang diharamkan oleh Allah swt. Begitupun setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari dilarang seseorang itu untuk shalat sunnah, jikalau ada seseorang shalat sunnah bahkan tahiyyatul masjid pun tidak dianjurkan. Jikalau anda masuk masjid setelah shalat ashar itu kalau bisa jangan tahiyyatul masjid karena ada beberapa ulama itu yang melarang bahkan memakruhkan daripada orang yang melaksanakan shalat tahiyyatul masjid dari waktu habis shalat ashar sampai terbenamnya matahari. Kalau sudah terbenam matahari datang waktu maghrib anda masuk masjid kemudian anda tahiyyatul masjid itu anda diperbolehkan lagi. Tapi kalau disana tidak ada waktu yang diharamkan semuanya diperbolehkan kata ulama, karena kenapa? Karena penghormatan dan memuliakan daripada Ka’batul Musyarafah maka anda diperbolehkan diwaktu apapun habis shalat ashar, habis shalat subuh anda boleh melakukan shalat sunnah apapun bentuknya diperbolehkan. Maka perbanyak shalat, perbanyak dzikir, perbanyak thawaf disana.
Ya anda jikalau pergi ke sana umrahnya cuma sekali sedangkan anda di sana misalkan 7 hari umrahnya berapa kali ditanya? Cuma sekali, kasihan karena disana itu waktu kita hanya untuk beribadah kepada Allah swt hingga anda pulangpun ke Negara Indonesia harus ada buah, apa buahnya? Ketika anda selesai melaksanakan umrah, selesai daripada menunaikan ziarah Nabi saw maka ibadah anda harus semakin rajin, cinta anda kepada nabi Muhammad saw pun semakin cinta seperti itu.
Maka kata oleh Rasulullah saw disini dikatakan “bashiril masya-ina” berikan kabar baik bagi mereka yang berjalan di waktu malam, diwaktu malam ini arti kata Rasulullah saw yaitu 2 shalat yaitu shalat isya dan shalat subuh dizaman dulu, tapi Alhamdulillah kita sekarang dizaman ini banyak penerangan disetiap gang ada penerangan ada lampu, di depan rumah kita ada lampu kesempatan bagi kita untuk masuk dan mendekat didalam rumah-Nya Allah swt, “fidhulami ilal masajidi” menuju daripada rumah-Nya Allah swt, apa itu? Masjid. Menunaikan apa? nggak mesti hanya shalat, dengan baca qur’an, dengan I’tikaf, dengan anda membaca dzikir, dengan anda memperbanyak doa kepada Allah swt, bermuhasabah diri kita kepada Allah swt, berkhalwat kepada Allah swt. Makanya ada sebagaian orang-orang soleh itu yang di kota Hadramaut di kota Tarim itu tidak ada bahkan disebelah rumah mereka itu kecuali mereka itu bangun masjid. Bahkan kalau seandainya di zaman dahulu itu zamannya Al Habib Abdurrahman Assegaff sekitar 800 tahun yang lalu beliau mengatakan di kota Tarim (kota Tarim itu kecil kotanya mungkin seperempat/seperenam dari kota Surabaya ini) zaman dahulu beliau mengatakan di kota Tarim terdapat 800 masjid. Kalau di Surabaya ini yang sedemikian besar ini kota terbesar setelah Jakarta anda hitung berapa banyak masjidnya, sampai 800? Nggak sampai 800 mungkin, mungkin puluhan kalau dihitung, masjid bukan mushola. Kalau di sana itu terkenal dengan masjidnya bahkan ada setiap orang soleh itu bangun rumah di sebelahnya beliau juga bangun masjid. Hanya berdekatan sekitar jarak 200 meter lagi ada masjid lagi tapi tidak dibuat untuk shalat jumat shalat jumatnya tetap di jami’ mereka itu. Seperti halnya kalau di Surabaya itu di masjid Ampelnya atau di masjid Al Akbarnya dan lain-lain Cuma hanya beberapa aja yang mendirikan masjid disitu. Tapi zamannya beliau 800 tahun yang lalu ada berapa masjid? 800 masjid. Sengaja mereka itu bangun masjid berdekatan karena kenapa? Untuk mendapatkan kabar baik (bisharah) dari Allah dan Rasul-Nya sehingga mereka diwaktu malam bisa berjalan didalam masjid didalam musholanya untuk mereka mendapatkan kabar baik dari Allah dan Rasul-Nya.
“ilal masajidi binnuurit tammi yaumal qiyamah” apa kabar baiknya? Kabar baiknya dia akan mendapatkan cahaya yang abadi di hari kiamat. Sudah nggak perlu cahaya yang lain dengan anda berjalan didalam masjid diwaktu malam seperti waktu malam ini pun juga termasuk, anda berangkat dari rumah anda berjalan keluar dari rumah anda ada yang dari sini, ada yang dari situ kumpul dalam satu mushola kumpul dalam satu masjid untuk mendapatkan ridha-Nya Allah anda belajar anda mendapatkan daripada ini bisharah, apa bisharahnya? Bisharahnya suatu kemuliaan yaitu cahaya yang begitu abadi yang begitu mulia di hari kiamat, terang benderang. Jadi anda dilihat oleh teman anda “ini tiba-tiba seseorang si fulan ini teman saya mungkin di dunia wajahnya nggak seberapa cahaya tapi kenapa dia di akherat di hari kiamat bercahaya”. Dilihat amalannya apa? amalannya dia selalu keluar malam untuk datang di dalam masjid-masjid, untuk datang ke mushola-mushola entah dia untuk shalat, entah dia untuk menggali ilmu, entah dia untuk berdzikir, entah dia untuk membaca Al Qur’an maka cahaya yang begitu abadi di hari kiamat anda akan dapatkan, dan itu bisharah yang dipersiapkan bagi mereka yang berjalan di jalan-Nya Allah swt menuju daripada masjid, menuju daripada tempat ibadah untuk menunaikan daripada ibadah-ibadah yang dimuliakan oleh Allah swt.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt maka kita mengambil ringkasan daripada hadist tersebut maka setiap malam gunakan, biarpun waktu anda sedikit untuk keluar dari rumah anda untuk mengambil daripada kabar baik ini dari nabi Muhammad saw. Biarpun jaraknya yang dekat anda keluar biarpun sebentar, biarpun katanya ulama disini maknanya hadist ini biarpun nggak shalat, syukur-syukur di shalat, syukur-syukur dia niat I’tikaf, syukur-syukur dia belajar membaca Al Qur’an, bermuhasabah kepada Allah swt itu cahayanya tambah bertambah tambah betambah tambah bertambah di hari kiamat dan dipersembahkan oleh Allah swt bagi mereka-mereka yang berjalan di jalan-Nya Allah swt seperti ini. Tapi kalau seandainya kita bermalas-malas justru waktu malamnya kita memperbanyak jalan kita ke mall, ke tempat-tempat yang tidak diridhai oleh Allah swt, ke tempat-tempat yang melalaikan diri kita kepada Allah swt maka cahaya tersebut tidak akan anda terima tetapi suatu kesengsaraan bahkan kegelapan yang akan anda terima wal iyadzubillahi mindzalik.
Mudah-mudahan ada manfaatnya marilah dikesempatan yang sangat mulia ini kita berdzikir kepada Allah swt, kita bermuhasabah kehadirat Allah swt, marilah kita mendekatkan diri kita kepada Allah swt dengan kita menginstropeksi diri kita kepada Allah swt sehingga kita menjadi manusia-manusia yang disucikan oleh Allah swt.
Marilah kita berdzikir bersama-sama satukan hatimu, satukan jiwamu dan satukan daripada sanubarimu, hadirkan hajat-hajatmu dan katakan dan ketuklah hatimu dengan menyebut nama Allah swt dan Dialah Maha yang mendengarkan doamu, Maha yang sangat perhatian daripada hajat-hajatmu, marilah sama untuk berdzikir dengan menyebut nama Allah.
Faqulu jami’an ya Allah..ya Allah..ya Allah..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar