Google+ Badge

Sabtu, 03 Januari 2015

Tausiyah Habibana Idrus bin Muhammad Al Aydrus - Mushalla Al Qodar - Banjar Kemantren – Sidoarjo, Senin 16 Juni 2014

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Yang Sama sama kita muliakan para Habaib, para ‘Alim ulama, tokoh masyarakat, para Kiai al asatidz wal asatidzah juga para ta’mir mushalla Al Qodar, para orang-orang tua disini yang mungkin umurnya jauh lebih tua dari saya, mudah-mudahan beliau-beliau, kita semuanya dipanjangkan umur kita oleh Allah swt, dan kita semuanya diberikan keluasan rezeki oleh Allah swt dan kita meninggal dalam keadaan khusnul khatimah…Amiin ya rabbal’alamin..3x
Wabilkhusus bilkhusus guru kita Al Habib Muhammad bin Ahmad Assegaff mudah-mudahan di muliakan oleh Allah swt.
Juga yang sama-sama kita muliakan ketua umum Majelis Rasulullah saw Jawa Timur akhina Gus Zad, dan terimaksih juga kepada Ust Deni, Ust Iffan dan saudara kita Zaki, semuanya yang tadi malam memasang umbul-umbul hingga terlaksananya acara yang sangat mulia ini mudah-mudahan anda semuanya mendapat karunia besar dari Allah swt, mendapat syafaat daripada Nabi kita Muhammad saw..Aamiin ya rabbal’alamin…
Sudah mendapat hujan berkah lewat pula lalu lalang kereta masyaallah..insyaallah tidak mematahkan semangat kita untuk selalu mencintai Nabi kita Muhammad saw.
 Saya disini juga kehujanan jangan takut, saya pun dapat hujan kepingin mendapatkan berkahnya malam ini insyaallah..
 Alhamdulillah…Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa…Shollalla’alaikallohu baariukalladzi bikaya musyafa’u khoshonna wahabanaa ma’a aalikalathhari ma’dinisirrikalasma fahum sufununnajati himanaa,,Allohumma sholliwasallim’ala Sayyidina Muhammadin ‘abdika wa Rosulika Nabiyyil ummiyy waalaalihi waazwajihi wadurriyatihi…kamaasholaita’ala Sayyidina Ibrohima wa’ala alihi Sayyidina Ibrohim…wabarik’ala Sayyidina Muhammadin ‘abdika wa Rosulika Nabiyyil ummiyy wa’ala alihi waazwajihi wadurriyatihi… kamabarokta’ala Sayyidina Ibrohima wa’ala alihi Sayyidina Ibrohim fil’alamina innaka hamidummajid.
 Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah swt, yang di malam ini kita dimuliakan oleh Allah, yang di saat ini kita dimuliakan oleh Allah, yang di detik ini kita dimuliakan oleh Allah karena di detik ini kita cinta kepada Nabi kita Muhammad, karena di hari ini, di malam ini bentuk kita cinta kepada Rasulullah saw.
Mudah–mudahan kita semuanya saya dan anda dipertemukan dengan Nabi kita Muhammad saw di hari kiamat, dan Rasulullah tersenyum kepada kita, dan Rasulullah memberikan tanganya kepada kita, dan kita bisa diberikan kesempatan hingga mencium tanganya Rasulullah saw..Aamin Aamiin ya rabbal’alamin.
 Dikesempatan yang sangat mulia ini, timbul sebelum saya berangkat tadi untuk sedikit membacakan daripada kitab yang dikarang oleh Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad yang insyaallah di malam ini sampai di bulan Ramadhan Majelis Rasulullah tidak ada yang amanya libur..setuju..??...setuju..?? Allahuakbar 3x..
Tidak ada yang namanya libur di dalam majelis Ta’lim, insyaallah kalau seandainya bertepatan dengan malam hari raya insyaallah kita akan siap laksanakan majelis tersebut..Allahuakbar..!!
Timbul ketukan didalam hati saya untuk membaca kitab ini yang insyaallah nasehat daripada orang-orang sholeh memotivasi diri kita untuk semakin cinta dengan orang-orang sholeh juga mencintai Nabi kita Muhammad saw.
Karena mereka orang sholeh adalah orang-orang yang kenal dengan Allah swt, karena mereka orang sholeh sebagai perantara diri kita kepada Allah swt, karena merekalah yang kenal dengan Allah swt.
Tidak ada perantara yang begitu mulia diri kita kepada Nabi kita Muhammad saw semulia orang sholeh..!! karena dialah pintu yang paling hebat untuk menembus pintu kepada Nabi kita Muhammad saw, dan sampailah kita ke Hadraturrahmannurrahiim yaitu Allah swt.
 Yang mana pengarang daripada kitab ini yaitu salah satu Dzuriyaturrasul, salah satu keturunan Nabi Muhammad saw, yang di dalam dirinya terdapat darah Rasulullah saw, yang di dalam dirinya terdapat akhlaknya Nabi Muhammad saw, yang didalam dirinya terdapat biografi dan kehidupan Rasulullah saw.
Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad yang setiap malamnya bahkan setiap harinya tidak lepas dengan shalat 200 rakaat bahkan lebih daripada 500 rakaat.
Pantas mereka itu disebut dengan orang sholeh, pantas mereka di sebut dengan orang-orang yang kenal dengan Allah swt. Bahkan julukan mereka Al Arif billah, julukanya ini dan itu, karena posisi mereka kehadirat Allah swt yang semakin dekatmaka mereka mendapat julukan masing-masing karena mereka sangatlah kenal dengan Allah swt.
Begitupun yang kita kenal daripada wali-wali songo, yang mana mereka bukan terkenal dengan keramatnya saja, yang mana mereka terkenalnya bukan tenaga dalamnya saja ini dan itu, bahkan itu bukan misi dari mereka ketika mereka berdakwah di Negara Indonesia ini, Negara yang kita cintai.
Bukan modalnya keramat mereka, mereka itu adalah orang-orang yang pintar didalam kehidupan mereka. Ada yang pintar didalam ahli sastranya, ada mereka yang pintar didalam ilmu telematiknya. Mungkin beda telematik di zamanya mereka dengan di zaman sekarang beda. Tetapi mereka “muamalatahum” komunikasi mereka satu sama yang lain dengan hati, bukan dengan alat komunikasi seperti di zaman sekarang melalui HP dan lain-lain.
Komunikasi mereka adalah apa..? adalah hati. Jikalau mereka memberikan nasehat, memberikan taujihad, memberikan masukan-masukan kepada murid-muridnya dan lain-lainya mereka itu mengeluarkan nasehatnya dari hati. Kalau sudah keluar nasehat dari hati maka pasti akan masuk di dalam hati kepada yang mendengarkanya.
Itulah mereka auliya-auliya Allah, tidak takut yang namanya kemiskinan, tidak takut yang namanyasusah hidup, tidak takut yang namanya dikatakan oleh orang dikatakan kere (orang yang nggak punya).
Itulah mereka auliya-auliya Allah, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel dan lain-lainya. Mereka itu bukan orang-orang primitive, bukan orang pegunungan yang datang di Negara Indonesia ini datang cuma bekal keramat bukan…!!!
Dan para Habaib-Habaib kita yang terdahulu datang ke Indonesia bukan bekal tenaga dalam saja bukan, bukan bekal dengan keramat. Mereka orang-orang pintar, orang-orang yang hebat, orang-orang yang ahli komunikasi satu dengan yang lain, mereka saling menghargai tidak ada dari mereka sikut menyikut diantara mereka.
Jikalau ada satu dari mereka datang ke gurunya, mengeluh gurunya kemudian tidak bisa menjawab gurunya pun mengatakan pergilah ke sunan ini, sunan tersebut juga tidak bisa memberikan jawaban dan mengatakan pergilah ke sunan ini.
Karena mereka adalah saling menghargai tidak ada mereka satu sama yang lain mengatakan ini milik saya, ini jamaah saya, ini jamaahnya itu, ini miliknya itu tidak ada.
Dan Majelis Rasulullah ini bukan saya khususkan majelis saya sendiri bukan..!!! bahkan saya sebagai khadim sebagai pembantu sebagai pembantu daripada pembantunya Majelis Rasulullah dan majelis-majelis yang bergabung dikesempatan yang mulia ini.
Sunan Ampel misalnya dulunya ketika awal berdakwah tidak banyak muridnya, memberikan nasehat-nasehat kepada orang yang mau mendengarkanya.
Ancaman-ancaman kepada mereka datang dari setiap pelosok-pelosok, dari setiap wilayah tetapi mereka tidak gentar untuk selalu mengajarkan dan memberikan nasehatkepada yang mau mendengarkanya.
Karena sebentar lagi bulan Ramadhan saya akan buka bab daripada bulan Ramadhan yang insyaallah memotivasi diri kita untuk senantiasa kita mengerjakan bulan Ramadhan mengerjakan puasa dengan semangat seperti khalayaknya kita duduk dimalam ini biarpun hujan deras, kereta lewat sedemikian kerasnya tidak ada yang gentar untuk keluar daripada majelis ini.

Disini dikatakan oleh beliau Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad didalam permulaanya beliau selalu memulai dengan kalimat “wa alaika” kalau diartikan sejenak mungkin kata-kata “alaika” itu tertuju bagi yang mendengarkanya. Itu sesaat mungkin pemahaman kita “wa alaika” adalah “hendaklah engkau”. Tetapi yang dimaksud oleh beliau bukanlah itu, yang dimaksud oleh beliau “wa alaika” itu ditujukan kepada dirinya sendiri.
Auliya-auliya Allah seperti ini, sebelum memberikan nasehat kepada orang yang mendengarkanya ditujukan nasehat tersebut kepada dirinya sendiri. Supaya dirinya sendiri termotivasi untuk melakukan hal yang baik, untuk rutin menjalankan ibadah, untuk berakhlak karimah, untuk selalu bershalat daripada shalat yang dirutinkanya itulah auliya Allah. Tetapi jikalau kita pandang daripada mata sebelah mungkin kita lihat perkataan daripada “wa alaika” ini Habib ini koq merasa dirinya paling benar ya..bukan.
Perkataan “wa alaika” disini tertuju khususnya untuk dirinya sendiri. Sehingga yang mendengarkanya pun langsung tersentuh daripada hatinya.
Disini dikatakan kata beliau :
“Hendaklah saya dan anda untuk senantiasa melaksanakan amal-amal perbuatan yang baik”.
Seperti yang disampaikan oleh guru kita Al Habib Muhammad bin Ahmad Assegaff yang mana memotivasi diri kita untuk senantiasa kita beribadah, untuk senantiasa kita meninggalkan dunia dan itulah pokok daripada kebaikan jikalau kita mau baik didalam dunia kita ini.
Anda mau baik, sibukkan waktu anda dengan kebaikan, khususnya kewajiban-kewajiban yang sudah diwajibkan oleh Allah swt seperti halnya puasa Ramadhan yang sebentar lagi kita akan hadapi, khususnya lagi ada yang namanya zakat yang wajib baginya zakat, berbakti kepada orang tuanya .
Apapun yang sifatnya baik kata beliau: “Sibukkan waktu anda dengan hal yang baik”. Kemudian mengatakan: “Khususnya di bulan Ramadhan”.
Begitu mulianya puasa di bulan Ramadhan yang disabdakan oleh Rasulullah saw di dalam hadist qudsi : “Amalan daripada bani Adam yang dilakukan itu satu kebaikan yang dia laksanakan mendapatkan 10 kebaikan daripada Allah swt kecuali puasa”
Katanya Allah. “Itu pahalanya buat Aku dan Aku yang akan membalas daripada orang yang melaksanakan puasa tersebut “
Pertanyaanya apakah puasa itu dikhususkan bulan Ramadhan saja apa juga puasa sunnah..? Ulama menyimpulkan itu yang dimaksud oleh hadist tersebut termasuk daripada puasa-puasa sunnah. Seperti puasa di hari senin, seperti puasa di hari kamis, seperti puasa di hari arafah, seperti puasa di hari pertama di bulan rajab juga Allah swt yang akan membalas.

Itu mulianya puasa :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dipanggil oleh Allah “wahai orang-orang yang beriman” panggilan yang begitu mulia, panggilan yang begitu indah, panggilan yang begitu romantis.
Bukan Allah swt memanggil “yaa ayyuhannas” tapi Allah swt memanggil “yaa ayyuhalladzina aamanu”.  Jadi jikalau kita mendapatkan orang yang lagi puasa adalah mereka ciri-ciri dari orang yang beriman, bahkan ulama mengatakan biarpun puasanya hanya menahan lapar dan dahaga biarpun itu, termasuk golongan orang-orang yang beriman, itu murahnya Allah swt. Dibalik daripada mahalnya manusia.
Kalau manusia jikalau melakukan kebaikan kadang-kadang membutuhkan balasan, nggak dibales nggak enak. Nggak dibales dicemberutin karena nggak dibales, itu manusia.

Kita sambung daripada pembacaan kitab ini di senin berikutnya tanggal 23 Juni 2014 bertempat di Tambak pokak, sambil kita bacakan tentang hokum-hukum daripada bulan Ramadhan sehingga kita tahu sedikit dan kita mengamalkan daripada isi di bulan Ramadhan.
Mari dikesempatan yang mulia ini kita berdzikir bersama-sama kehadirat Allah swt, angkat tanganmu kehadirat Allah swt, rendahkan hatimu kehadirat Allah swt.
Lihat Allah saja dengan bumi begitu murah hingga bumi diturunkan daripada hujan, tumbuh-tumbuhan menjadi subur, orang yang merasakan panas di malam hari ini saja merasakan dingin apalagi kita sebagai manusia yang adalah ciptaan Allah swt yang paling dimuliakan oleh Allah swt. Mari kita berdzikir kehadirat Allah swt.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
يَا الله...يَا الله... ياَ الله..يَا الله...يَا الله... ياَ الله..يَا الله...يَا الله... ياَ الله..يَا الله...يَا الله

Tidak ada komentar:

Posting Komentar