Google+ Badge

Sabtu, 03 Januari 2015

Tausiyah Habibana Idrus bin Muhammad Al Aydrus - YKS TV9 Surabaya, Minggu 08 Juni 2014

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh



Yang Sama sama kita muliakan para hadirin dan hadirat yang hadir di studio TV9 yang sangat dimuliakan oleh Allah swt, juga pemirsa TV9 yang mudah-mudahan selalu dicintai oleh Allah swt dan dicintai oleh baginda Nabi kita Muhammad saw.
Bahwasanya didalam peran daripada guru dan orang tua adalah peran yang tidak bisa dijauhkan dan sangat mempunyai kaitan yang begitu kuat. Sehingga mendidik seorang anak khususnya menjadi anak yang sangat dan sangat sholeh, seperti disabdakan Nabi kita Muhammad saw yang artinya :
“Semua amal manusia kelak dihari kiamat akan terputus kecuali tiga, daripada tiga tersebut adalah anak yang sholeh yang mana mendoakan daripada kedua orang tuanya”.
Jadi orang tua membina anaknya, memberikan pelajaran di rumahnya. Dan guru yang mana kata Rasulullah saw dalam hadistnya :
“Saya diutus oleh Allah swt adalah sebagai pengajar, pendidik yang sangat baik, sebagai guru yang sangat mulia”.

Hingga anak itu didalam sekolahnya, misalkan disekolahkan ditingkat dari sejak Paud, kemudian TK, kemudian SD, SMP melihat gurunya itu didalam keseharianya adalah sebagai figure yang begitu mulia. Jadi seorang guru itu adalah peran yang sangat kuat kepada anak. Tapi kalau seandainya gurunya sudah tidak ada seperti yang dikatakan saudara Mubarok tadi didalam sekolahnya, misalkan didalam kuliahnya dosen-dosen dan lain-lain tidak mempunyai figure ketika mendidik anaknya, misalkan didalam cara dia berkomunikasi memberikan daripada kata-kata yang baik, bukan ketika mengajar mengajarkan daripada cacian kepada orang lain, mengkritik orang maka yang mendengarkanya pun, muridnya pun jangan disalahkan jikalau mendapatkan seorang murid ahli mencaci. Karena yang dilihat didalam sekolahnya adalah gurunya.
Begitupun orang tuanya ketika didalam rumahnya sudah membiasakan dengan hal yang baik, mendidik anak yang begitu sholeh mendekatkan dirinya kepada Allah swt.
Mungkin kita fikirkan disini kita lihat dengan cara-cara yang mungkin kita anggap sepele.
Seperti halnya adab-adab Nabi kita Muhammad saw, akhlak-akhlak Rasulullah saw yang mengkin kita angap sepele. Seperti halnya ketika masuk didalam kamar mandi dahulukan kaki kiri ketika keluarnya pun. Didalam kamar mandinya pun diajarkan bagaimana malu kehadirat Allah swt. Jadi membiasakan anak yang sedemikian maka anak semakin besar-semakin besar menjadi anak yang sholeh. Jikalau anak menjadi anak yang sholeh kita lihatpun bagus, enak. Adabnya, sopan santunya daripada akhlaknya yang sangat dimuliakan oleh Allah swt, oleh baginda Nabi kita Muhammad saw sehingga anak tersebut bisa tertular oh orang tua saya seperti ini.., guru saya seperti ini…
Maka dari itulah Nabi kita Muhammad saw selalu mengajarkan hal yang baik, bahkan ketika Rasulullah saw diceritakan disitu pernah mungkin saya sebutkan didalam kesempatan yang sangat mulia ini, tidak membiarkan anak kecil itu untuk menangis. Dan bahkan memberikan pendidikanya pun yang begitu mulia dari sejak awal.
Daripada cucu Rasulullah saw Sayyidina Hasan dan Husein, bahkan didalam riwayat ketika Rasulullah saw dalam keadaan sujud Sayyidina Hasan dan Husein itu pernah menaiki pundaknya Nabi Muhammad saw. Bahkan ketika sujud tersebut Rasulullah saw memanjangkan daripada sujudnya. Sahabat-sahabat dibelakang heran ini Rasulullah saw kenapa koq panjang sujudnya ini…sholat apa ini..?
Mungkin kalau sholat yang seperti ini kalau ada yang ikut dikira Madzab apa ini.
Madzab nopo ini..?
Kalau zaman sekarang ini orang berbuat baik dicurigai, betul tidak..? orang berbuat kemaksiatan yang sudah jelas-jelas malah didukung oleh orang tuanya, naudzubillahi mindzalik. Sudah jelas-jelas dia berboncengan dengan orang yang bukan muhrimnya dibiarkan. Tapi kalau seandainya dengan hadir di majelis-majelis shalawat, majelis-majelis taklim dicurigai , itu ajaran apa itu..? itu madzab apa..? padahal baik.
Daripada mengajak daripada seseorang dalam kemaksiatan lebih baik dalam kebaikan, apalagi bentuknya shalawat kepada Habi kita Muhammad saw.
Bahkan dibiarkan oleh Rasulullah saw bertanya sahabat setelah salamnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam :
“Ya Rasulullah kenapa engkau sholat yang begitu lama sekali hingga sujudmu sangat panjang sekali..?”.
“sesungguhnya tadi disini ada cucuku Sayyidina Hasan wal Husein yang menaiki pundakku, saya biarkan dia hingga dia sampai turun sendiri. Karena saya membiasakan supaya cucuku itu terbiasa ketika melaksanakan daripada sholat berhubungan dengan Allah swt”.
Dari kebiasaan tersebut berpengaruh anak kecil untuk melihat daripada kebiasaan orang tuanya didalam rumah. Kita misalkan saja jikalau orang tua kebiasaanya selalu mengajak dalam sholat khususnya berjamaah, maka anak tersebut senantiasa melaksanakan sholat jamaah.
Bahkan didalam adat daripada orang Tarim di Hadramaut sana, disitu ada adat yang sangat bagus. Apa itu adatnya..? jikalau datang bangun malam itu anak-anak kecil dibangunin. Kalau orang dizaman sekarang mungkin heran, “biarkan aja kasihan ini anak masih perlu istirahat”.
Tapi kalau orang-orang sana nggak, dibiasakan. Sampai bangun malamnya pun dibiasakan supaya apa..? dari kecil sudah senang dengan yang namanya bangun malam. Hingga anak tersebut senang dengan bangun malam biarpun bermain, nggak mesti dzikir. Biarpun bermain malah dengan orang tuanya disediain dengan permainan yang penting dia bisa menghidupkan malam seperti itu.
Bahkan dalam adatnya yang lain ada daripada adatnya salafuna sholeh orang di Hadramaut sana itu kalau sudah datang waktu baligh umurnya 15 tahun, itu dia undang para ulama, para Habaib, para ‘alim ulama, para kyai disitu diundang dijadikan satu, itu anak tesebut dipanggil didudukkan didepan daripada para ulama, para Habaib disitu orang tua pun mengambil microphone dan memberikan kesaksian kepada yang hadir disitu. Memberikan kesaksian gimana..?
“ini ketahuilah wahai para Habaib, para ‘alim ulama ini anak ku sudah menginjak waktu dewasa, sudah menginjak waktu baligh, dan anda semuanya yang disini sebagai saksi kalau seandainya dia meninggalkan sholat dia akan mendapat dosa daripada Allah swt. Jikalau dia melakukan daripada kebaikan dia akan mendapatkan ganjaran dan kebaikan daripada Allah swt”. Maka di waktu itu anak menjadi takut melihat apa..? melihat daripada kesaksian orang tuanya yang disaksikan oleh para ulama dan para Habaib disitu. Takut jadi disitu anak tersebut menjadi dewasa dan besar sehingga menjadi ‘alim ulama disitu.
Biasakan seperti itu. Tapi jikalau anak dirumahnya saja maaf-maaf jikalau orang tuanya suka telanjang jangan salahkan jikalau anaknya suka telanjang. Jikalau orang tuanya senantiasa membicarakan kejelekan orang jangan salahkan jikalau anaknya membicarakan kejelekan orang, karena dilihat panutanya figurenya dirumahnya seperti itu. Yang dilihat kebiasaan orang tuanya dari kecil seperti itu. Orang tuanya suka mbujuk (bohong) ya jangan salahkan anaknya suka mbujuk (bohong).
Orang tuanya seneng membaca al qur’an, anaknya pasti min ahlil qur’an. Begitupun disekolahnya, dikuliahnya dan segala macem, jikalau dosen, guru disitu berperan bagus kepada pendidikan daripada muridnya. Dibiasakan tidak berbicara daripada hal-hal yang buruk, dan ketika masuk kamar mandi dilihat seperti itu maka yang dilihat selalu bagus, maka tumbuh dewasa akan semakin bagus-semakin bagus maka anak tersebut menjadi ‘alim ulama. Menjadi orang yang paling dimuliakan oleh Allah swt. Tetapi sebaliknya seperti saya katakan tadi jikalau dengan pelajaran yang tidak bagus, makanya disitu haruslah orang tua ini mempunyai peran untuk mendidik daripada anaknya. Guru pun mendidik daripada pelajaran-pelajaran yang bagus.
Mungkin kita ini kadang-kadang tergiur dengan yang namanya titel dunia, ada S1, S2 sampai S Campur iya kan..? banyak kan..? tergiur dengan itu tetapi kita tidak membiasakan anaknya itu supaya gemar dengan membaca al qur’an. Apalagi sebentar lagi kita akan menyambut daripada bulan Ramadhan, bulan yang mana diturunkan daripada al qur’an. Ajarkan anak selalu untuk membaca al qur’an, dari sekarang biasakan paling tidak satu juz tiap hari, paling tidak tiap hari satu lembar nggak bisa satu lembar ya kebangeten.



Kita lihat antusias pemuda-pemuda di zaman sekarang yang mana mereka condongnya kepada kebudayaan-kebudayaan barat iya kan..? Betul dalam firman Allah swt Tidak akan rela kepada kita orang-orang yang non Islamitu untuk selalu merubah biarpun kita nggak masuk ke dalam agamanya mereka, dengan kita meniru daripada kebudayaanya mereka. Dengan kita meniru daripada kebudayaanya mereka cara bicara kita bukan Assalamuaaikum lagi tapi “say hello”.
Makanya daripada itu orang tua dan guru sangat berperan ketika, berhubungan saja ketika seseorang sudah melaksanakan pernikahan dengan niat yang baik, bahkan disitu ada salah satu orang sholeh yang bernama Syech Ali bin Abibakar As Syakran, yang anak daripada Al Habib Abubakar As Syakran yang pengarang daripada Wirdu Syakran, beliau mengarang daripada niat-niat ketika seseorang mau menikah. Yang niatnya ya mungkin cukup panjang tapi mungkin jikalau kita baca sebentar mungkin sepuluh menit selesai. Tetapi dampak dan pengaruhnya sangat kuat, untuk khususnya mereka-mereka yang hendak melaksanakan daripada pernikahan. Karena didalam pernikahan asal usulnya dan usulnya daripada nikah adalah supaya mendapat keturunan.

Kesimpulannya begitu pentingnya peran orang tua dan guru yang pertama adalah diberi anak tersebut wasiat dengan taqwa kepada Allah swt karena taqwa adalah wasiat yang begitu hebat. Dengan taqwa tersebut kesimpulanya adakah apa..? mentati daripada peraturan-peraturan daripada Allah swt melalui daripada sholat, puasa, kewajiban, hormat dengan orang tua dan sebagainya dan menjauhi daripada larangan-larangan yang sudah dilarang oleh Allah swt, melakukan daripada kemaksiatan dan hal-hal buruk yang lain .
Jikalau kita mau keberuntungan yang begitu besar, keberuntungan yang begitu indah adalah tidak ada pesan yang sedemikian mulianya kecuali kita bertaqwa kepada Allah swt.
Kemudian yang ke dua peran orang tua dan guru adalah mendudukkan, ada waktu disediakan waktu khusus untuk anak kepada orang tuanya. Misalkan setelah maghrib ditanya daripada anaknya apa yang dia dapat didalam sekolahnya dudukkan. Setelah membaca Ratib, membaca Yasin dan segala macem ajak sholat isya berjamaah.

Dua itu adalah salah satu kesimpulan yang sedemikian mulianya adalah yaitu bertaqwa kepada Allah swt dan meluangkan waktu untuk kita mendidik anak dengan didikan seperti didikanya Nabi Muhammad saw.
Seperti disabdakan oleh Nabi Muhammad saw :
“Allah swt telah memberikan didikan yang begitu hebat dengan aku, dengan yang semulia-mulia didikan”.
Didikan yang bagus, didikan dengan cinta dengan orang sholeh, cinta al qur’an dan segala macem. Dan mudah-mudahan kita semuanya mendapat kemuliaan daripada Allah swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar